RUPSLB Telkom Setujui Spin-Off InfraCo, InfraNexia Kelola 90 Persen Aset Jaringan

Berita139 Dilihat

TARAKAN24JAM.COM, JAKARTA – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) resmi melakukan pemisahan aset dan bisnis (spin-off) wholesale fiber connectivity ke PT Telkom Infrastruktur Indonesia (InfraNexia).

 

Aksi korporasi tersebut mendapat persetujuan pemegang saham independen dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Telkom yang digelar secara daring, Rabu (30/9/2026).

 

Sebagai transaksi afiliasi yang diatur dalam Peraturan OJK Nomor 42/POJK.04/2020 tentang Transaksi Afiliasi dan Benturan Kepentingan, pelaksanaan spin-off tersebut telah memenuhi ketentuan kuorum mayoritas pemegang saham independen.

Pembentukan InfraNexia sebagai perusahaan yang fokus mengelola bisnis infrastruktur jaringan TelkomGroup merupakan bagian dari strategi TLKM 30. Langkah tersebut diarahkan untuk mendorong monetisasi aset bernilai tinggi sekaligus membuka peluang kemitraan strategis.

 

Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno mengatakan, persetujuan pemegang saham menjadi bagian penting dalam proses transformasi Telkom menuju struktur bisnis yang lebih fokus.

 

“Atas nama direksi Perseroan, kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang tinggi kepada pemegang saham dan seluruh pemangku kepentingan yang senantiasa menyertai perjalanan transformasi Telkom,” ujar Nanang.

 

Menurut dia, spin-off InfraCo memberikan ruang dan fleksibilitas bagi InfraNexia untuk mengembangkan bisnis infrastruktur secara lebih optimal.

 

Telkom, lanjut Nanang, memastikan transformasi tersebut dapat memberikan dampak terhadap kinerja dan penciptaan nilai perusahaan sekaligus memperbesar kontribusi bagi ekosistem digital Indonesia.

 

Susunan Pengurus Berubah

 

Dalam RUPSLB tersebut, pemegang saham juga menyetujui perubahan susunan Dewan Komisaris dan Direksi Telkom.

 

Susunan Dewan Komisaris Telkom setelah RUPSLB terdiri atas Angga Raka Prabowo sebagai Komisaris Utama, serta Ossy Darmawan, Rizal Mallarangeng, dan Edwin Hidayat Abdullah sebagai komisaris.

 

Sementara komisaris independen terdiri dari Rofikoh Rokhim, Anthony Leong, Deswandhy Agusman, dan Ira Noviarti.

 

Di jajaran direksi, Nanang Hendarno tetap menjabat Direktur Utama. Posisi Direktur Enterprise & Business Service diisi Veranita Yosephine, Direktur Human Capital Management Willy Saelan, serta Direktur Keuangan & Manajemen Risiko Arthur Angelo Syailendra.

 

Selanjutnya, Budi Satria Dharma Purba menjabat Direktur Network, Seno Soemadji sebagai Direktur Strategic Business Development & Portfolio, Radita Ali Putra sebagai Direktur Wholesale & International Service, Kharim I. G. Siregar sebagai Direktur IT Digital, dan Andy Kelana sebagai Direktur Legal & Compliance.

 

InfraNexia Kelola Lebih dari 90 Persen Aset Jaringan

 

Pada hari yang sama, Telkom dan InfraNexia menandatangani akta pemisahan (deed of spin-off) sebagai bagian dari penyelesaian Spin-Off InfraCo Tahap 2.

 

Akta tersebut ditandatangani Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno dan Direktur Utama InfraNexia Lukman Hakim Abd. Rauf di Telkom Landmark Tower, Jakarta.

 

Melalui proses tersebut, lebih dari 90 persen aset infrastruktur jaringan yang sebelumnya berada di bawah Telkom resmi dikonsolidasikan ke InfraNexia.

 

Konsolidasi itu mencakup sekitar 112.000 kilometer jaringan serat optik, termasuk 26.000 kilometer Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) domestik. Total nilai transaksi mencapai sekitar Rp85,7 triliun.

 

Nanang mengatakan, InfraNexia diarahkan untuk mempertajam fokus bisnis sekaligus meningkatkan produktivitas aset infrastruktur. Salah satu sasaran utamanya adalah meningkatkan kontribusi pasar eksternal terhadap pendapatan segmen B2B Infrastructure TelkomGroup.

 

“Dengan skala dan fokus yang semakin solid, InfraNexia diharapkan mampu mengelola infrastruktur secara lebih optimal sekaligus membuka pemanfaatannya bagi lebih banyak pelaku industri,” katanya.

 

Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom Seno Soemadji mengatakan, konsolidasi aset memberikan ruang lebih luas bagi InfraNexia untuk meningkatkan utilisasi jaringan dan memperluas kolaborasi dalam ekosistem digital nasional.

 

“Skala infrastruktur yang semakin besar memberi kami fleksibilitas untuk menghadirkan solusi yang lebih relevan bagi berbagai kebutuhan pelanggan,” ujar Seno.

 

Pasca-konsolidasi, InfraNexia mengelola jaringan serat optik yang terhubung melalui infrastruktur darat dan laut. Jaringan tersebut didukung empat area, 12 regional, dan 61 distrik di seluruh Indonesia.

 

Infrastruktur itu ditujukan untuk mendukung kebutuhan operator telekomunikasi, penyedia layanan internet, perusahaan cloud, pusat data, hingga berbagai pelaku industri lainnya.

 

Dorong Infrastruktur Digital Berbasis AI

 

Direktur Utama InfraNexia Lukman Hakim Abd. Rauf mengatakan, konsolidasi tersebut memperkuat peran perusahaan dalam mengembangkan jaringan nasional sebagai AI Ready Infrastructure yang terbuka dan terintegrasi.

 

“Indonesia membutuhkan AI Ready Infrastructure yang mampu berkembang seiring kebutuhan industri dan teknologi,” kata Lukman.

 

InfraNexia mengusung model bisnis carrier-neutral dan open-access melalui dua lini utama, yakni Wholesale Connectivity dan Wholesale FTTx.

 

Portofolio tersebut mencakup layanan konektivitas berkapasitas tinggi, akses jaringan, serta pemanfaatan infrastruktur pasif bersama yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan.

 

Selain memperluas skala jaringan, perusahaan juga mempercepat modernisasi operasi melalui otomasi, integrasi sistem, dan pengembangan kemampuan autonomous network.

 

Langkah tersebut diarahkan untuk meningkatkan keandalan layanan, efisiensi operasional, serta kemampuan jaringan dalam merespons pertumbuhan permintaan pelanggan.

 

Lukman mengatakan, penguatan skala dan kapabilitas tersebut menjadi bagian dari upaya InfraNexia memastikan infrastruktur digital tetap relevan dengan kebutuhan Indonesia yang semakin terkoneksi.

 

“InfraNexia dengan semangat Flowing Through Nusantara merefleksikan bagaimana infrastruktur kami akan terus menghubungkan wilayah, industri, dan berbagai peluang pertumbuhan di seluruh Indonesia,” pungkasnya. (Wek)





Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *