TARAKAN24JAM.COM, TARAKAN – Di sebuah ruangan sederhana, gelak tawa para peserta terdengar bersahutan. Tidak ada seragam putih abu-abu, tidak ada wajah-wajah remaja yang sibuk mencatat pelajaran. Yang ada justru puluhan pria dan perempuan berusia di atas 60 tahun yang antusias mengikuti setiap arahan instruktur. Mereka adalah para “murid” di Sekolah Lansia Nurani (Nusantara Ramah Lansia) Al Marhamah, sebuah sekolah rakyat yang membuktikan bahwa proses belajar tidak mengenal batas usia.
Di tengah meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia, Yayasan Al Marhamah melihat adanya persoalan yang kerap luput dari perhatian. Jumlah lansia terus bertambah, namun belum diimbangi dengan lembaga atau program yang secara khusus mendampingi mereka agar tetap sehat, aktif, dan produktif.
Berangkat dari kondisi tersebut, lahirlah Sekolah Lansia Nurani Al Marhamah sebagai program pemberdayaan masyarakat yang dirancang bukan sekadar menjadi tempat berkumpul, tetapi juga ruang belajar bagi para lansia.
HRD Yayasan Al Marhamah, Abdul Nur Razaki, menjelaskan bahwa sekolah ini memiliki kurikulum bertingkat layaknya jenjang pendidikan tinggi, yakni S1, S2, hingga S3. Namun, kepanjangan jenjang tersebut bukan gelar akademik, melainkan tahapan pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan lansia.
“Program ini hadir karena kami melihat ada persoalan sosial. Jumlah lansia terus bertambah, tetapi jumlah orang maupun lembaga yang mengelola mereka tidak ikut bertambah. Karena itu kami membuat program pemberdayaan melalui Sekolah Lansia dengan kurikulum berjenjang,” ungkapnya, Kamis (2/7/2026).
Pada jenjang pertama atau S1, peserta lebih banyak mempelajari kemandirian, menjaga kesehatan, hingga memahami perubahan yang terjadi di usia lanjut. Memasuki S2, materi lebih diarahkan pada aktivitas fisik dan rekreasi yang menyenangkan, seperti outbound dan kegiatan di alam terbuka untuk menjaga kebugaran sekaligus memperkuat interaksi sosial.
Sementara di tingkat S3, para peserta didorong menghasilkan sebuah karya, baik berupa produk maupun bentuk kreativitas lainnya sebagai simbol bahwa usia senja tetap mampu melahirkan sesuatu yang bermanfaat.
Setiap jenjang memiliki jumlah pertemuan yang berbeda. Program S1 berlangsung selama 10 kali pertemuan, sedangkan S2 dijalankan dalam delapan kali pertemuan sebelum peserta melanjutkan ke tahapan berikutnya.
Pada tahun ini, Yayasan Al Marhamah merapel seluruh jenjang pembelajaran. Rencananya, para peserta dari S1 hingga S3 akan diwisuda secara bersamaan pada Januari 2027.
Sejak pertama dibuka, sekolah ini telah meluluskan sekitar 30 peserta di jenjang S1. Kini sebagian telah melanjutkan ke tingkat S2, sementara angkatan baru S1 diikuti sekitar 20 lansia.
Menariknya, seluruh kegiatan diberikan tanpa dipungut biaya. Namun, sebelum diterima menjadi peserta, setiap calon siswa harus mengikuti proses penyaringan berupa pemeriksaan kesehatan, mulai dari pengukuran tinggi badan, berat badan, hingga pemeriksaan kondisi fisik.
Sekolah ini juga mengenalkan istilah “Jelita” atau jelang 50 tahun, dan “Lolita” atau lolos 50 tahun. Meski demikian, prioritas utama tetap diberikan kepada peserta berusia 60 tahun ke atas.
Pada pertemuan perdana tahun ini, para lansia mendapatkan pelatihan akupresur, pijat sederhana, serta gerakan-gerakan ringan yang dapat dilakukan secara mandiri di rumah. Materi tersebut diberikan agar para peserta mampu menjaga kesehatan tubuh tanpa harus bergantung sepenuhnya pada orang lain.
“Bukan sekadar belajar teori, tetapi bagaimana lansia tetap mandiri dan organ tubuhnya terus bergerak melalui latihan-latihan sederhana,” kata Abdul.
Lebih dari sekadar ruang belajar, Sekolah Lansia Norani Al Marhamah menjadi tempat bagi para orang tua untuk kembali menemukan semangat hidup. Di usia yang sering dianggap sebagai masa untuk beristirahat, mereka justru kembali menjadi murid—belajar, tertawa, berteman, hingga berkarya.
Di tengah derasnya pembangunan yang sering berfokus pada generasi muda, keberadaan sekolah rakyat seperti ini menjadi pengingat bahwa pendidikan dan pemberdayaan adalah hak setiap warga, termasuk mereka yang telah memasuki usia senja. Di Tarakan, ruang belajar itu kini hadir, membuktikan bahwa tidak pernah ada kata terlambat untuk terus bertumbuh. (Wek)













