Jangan Tunggu Anak Lahir, Wali Kota Tarakan: Cegah Stunting Sejak Dalam Kandungan

Advetorial, Berita88 Dilihat

TARAKAN24JAM, TARAKAN – Upaya pencegahan stunting di Kota Tarakan harus dimulai sejak bayi masih berada dalam kandungan. Pemeriksaan kehamilan secara rutin dinilai menjadi salah satu langkah penting untuk mendeteksi berbagai risiko yang dapat memengaruhi kesehatan ibu dan bayi.

Hal tersebut disampaikan Wali Kota Tarakan dr. H. Khairul, M.Kes., saat menghadiri Maternity Expo Puskesmas Gunung Lingkas yang diikuti sekitar 100 ibu hamil.

Khairul menegaskan, masa kehamilan merupakan periode penting dalam menentukan kualitas tumbuh kembang anak. Karena itu, intervensi untuk mencegah stunting tidak seharusnya baru dilakukan setelah bayi lahir.

“Kalau kita ingin menghasilkan generasi yang bagus, yang cerdas, yang hebat, yang unggul, dimulainya dari proses kehamilan. Kalau sudah lahir, tidak banyak lagi yang bisa dilakukan,” tegas Khairul.

Menurutnya, pengalaman pandemi Covid-19 pada 2019–2020 menjadi salah satu pelajaran penting. Saat itu, aktivitas pelayanan kesehatan, termasuk Posyandu dan pemeriksaan ibu hamil, sempat terganggu.

Kondisi tersebut, kata Khairul, turut memberikan dampak terhadap kondisi stunting di Tarakan yang ketika itu berada di kisaran 25 persen.

Namun, angka tersebut saat ini telah mengalami penurunan. Khairul menyebut berdasarkan informasi yang diterimanya, prevalensi stunting Tarakan berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) berada di kisaran 12 persen.

Sementara berdasarkan Elektronik-Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (E-PPGBM), angkanya berada di sekitar 4 persen. Khusus wilayah Gunung Lingkas, angka yang disebut berada di kisaran 4,2 persen.

Meski menunjukkan penurunan, Khairul menilai upaya pencegahan tetap harus dilakukan secara konsisten, terutama sejak masa kehamilan.

Ia mengingatkan ibu hamil agar tidak menunda pemeriksaan kehamilan hingga memasuki trimester akhir. Pemeriksaan minimal enam kali selama masa kehamilan perlu dipenuhi untuk memastikan kondisi ibu dan janin terpantau.

“Jangan menunggu nanti sudah besar perutnya baru periksa. Pemeriksaan itu harus dilakukan secara rutin. Kalau bisa setiap bulan, supaya kalau ada masalah bisa diketahui lebih awal,” ujarnya.

Menurut Khairul, pemeriksaan rutin penting untuk mendeteksi berbagai risiko kehamilan, termasuk hipertensi maupun komplikasi lainnya yang dapat membahayakan keselamatan ibu dan bayi.

Selain berdampak terhadap kesehatan ibu dan bayi, pemeriksaan kehamilan secara rutin juga menjadi bagian dari upaya pemerintah menekan angka kematian ibu, angka kematian bayi serta prevalensi stunting.

Khairul juga menekankan agar pelaksanaan Maternity Expo tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Menurutnya, keberhasilan program harus diukur dari dampak yang dihasilkan di masyarakat.

“Bukan hanya seremoninya yang kita butuhkan, tetapi dampaknya. Kalau di sini terjadi zero kematian ibu, zero kematian bayi, dan tidak ada stunting, baru saya anggap berhasil,” katanya.

Ia mengapresiasi kolaborasi berbagai pihak dalam pelaksanaan kegiatan tersebut, mulai dari Puskesmas Gunung Lingkas, Pertamina Patra Niaga, BPJS Kesehatan, pemerintah kecamatan dan kelurahan, kader Posyandu hingga pihak lainnya.

Khairul berharap kolaborasi tersebut dapat terus diperkuat sebagai bagian dari upaya menyiapkan generasi yang sehat dan berkualitas menuju Generasi Emas Tarakan 2045. (Adv/wek)





Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *