Dari Tambak ke Dapur Usaha: Ketika Perempuan Pesisir Bebatu Mengolah Harapan Lewat Petis Udang

Berita55 Dilihat

TARAKAN24JAM.COM, Tana Tidung – Di Desa Bebatu, Kabupaten Tana Tidung, aroma petis udang yang mengepul dari dapur sederhana bukan sekadar pertanda makanan sedang dimasak. Di balik proses pengolahan itu, tersimpan cerita tentang perempuan-perempuan pesisir yang perlahan mengubah hasil tambak menjadi harapan baru bagi ekonomi keluarga.

Selama ini, kehidupan masyarakat Bebatu tidak pernah jauh dari ekosistem mangrove. Hamparan hutan mangrove menjadi penyangga tambak yang dikelola melalui sistem silvofishery, perpaduan antara budidaya perikanan dan pelestarian mangrove. Sistem ini membuat masyarakat tetap memperoleh hasil ekonomi tanpa mengorbankan kelestarian alam.

Namun, bagi para perempuan di desa tersebut, menjaga keluarga tak lagi cukup hanya dengan menunggu hasil panen tambak. Mereka mulai melihat peluang baru, yakni mengolah udang menjadi produk bernilai jual lebih tinggi.

Peluang itu hadir melalui program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) yang dijalankan Kementerian Kehutanan. Melalui Sekolah Lapang Livelihood, sebanyak 11 perempuan yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Bina Baru mendapatkan pelatihan mengolah petis udang.

Pelatihan tidak hanya mengajarkan cara memasak. Para peserta juga dibekali pengetahuan mengenai standar kebersihan, teknik produksi yang benar, pengemasan higienis, pelabelan produk, hingga dasar-dasar keamanan pangan. Bekal tersebut menjadi langkah awal agar produk olahan mereka mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

Ketua KWT Bina Baru, Rukiah, mengaku pelatihan tersebut membuka wawasan baru bagi kelompoknya.

“Melalui kegiatan ini, kami merasa sangat terbantu karena mendapat ilmu baru, pengalaman, dan wawasan bagi kelompok. Selama ini distribusi produk kami hanya menjangkau wilayah Desa Bebatu dan kabupaten. Ke depan, kami berharap ada keberlanjutan agar dapat semakin mendorong perekonomian ibu-ibu yang tergabung dalam kelompok kami,” ujarnya.

Bagi Rukiah, pelatihan itu memberikan keyakinan bahwa hasil tambak tidak harus selalu dijual dalam bentuk segar. Dengan teknik pengolahan yang tepat dan kemasan yang menarik, produk sederhana seperti petis udang mampu memiliki nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi.

Semangat serupa juga mendapat dukungan dari Pemerintah Desa Bebatu. Kepala Seksi Kesejahteraan Desa Bebatu, Sri Kamariah, menilai pemberdayaan perempuan menjadi salah satu solusi di tengah terbatasnya lapangan pekerjaan di desa.

Menurutnya, perempuan memiliki kontribusi besar dalam menopang ekonomi keluarga. Karena itu, pemerintah desa terus mendorong kelompok-kelompok usaha masyarakat melalui pendampingan, termasuk membantu penyusunan proposal dan membuka peluang keberlanjutan program pemberdayaan.

Sementara itu, PPIU Manager Kalimantan Utara Program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR), Akhmad Ashar Sarif, menjelaskan bahwa Sekolah Lapang Livelihood merupakan bagian dari upaya menghubungkan pelestarian mangrove dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Pelatihan sekolah lapang ini merupakan komitmen kami bersama dalam melestarikan mangrove dan meningkatkan ekonomi masyarakat pesisir, sekaligus memastikan bahwa pengetahuan dan keterampilan yang diberikan dapat diterapkan secara berkelanjutan,” katanya.

Menurut Ashar, keberhasilan rehabilitasi mangrove tidak hanya diukur dari luas kawasan yang kembali hijau, tetapi juga dari sejauh mana masyarakat memperoleh manfaat ekonomi melalui pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan.

Di Bebatu, kedua tujuan itu mulai berjalan beriringan. Mangrove tetap terjaga melalui penerapan silvofishery, sementara perempuan memperoleh kesempatan meningkatkan keterampilan dan membangun usaha berbasis potensi lokal.

Dari dapur-dapur sederhana di desa pesisir itu, lahir lebih dari sekadar petis udang. Yang tumbuh adalah rasa percaya diri, kemandirian, dan harapan bahwa perempuan bukan lagi sekadar pendamping dalam roda ekonomi keluarga, melainkan pelaku utama yang mampu menciptakan nilai tambah dari kekayaan alam desanya. Di sanalah fondasi ekonomi pesisir yang tangguh dan berkelanjutan mulai dibangun—berawal dari tangan-tangan perempuan yang tak pernah lelah mengolah harapan. (Wek)





Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *