Balai Adat Tidung dan Museum Sejarah Tarakan Buka Layanan Edukasi dan Wisata Budaya

Advetorial, Berita108 Dilihat

TARAKAN24JAM.COM, TARAKAN– Balai Adat Tidung & Budaya serta Museum Sejarah Tarakan tidak hanya menjadi tempat menyimpan dan mengenalkan sejarah, tetapi juga membuka ruang edukasi bagi pelajar, mahasiswa hingga masyarakat umum untuk mengenal lebih dekat budaya dan sejarah lokal.

 

Kepala UPT Balai Adat Tidung & Budaya serta Museum Sejarah Tarakan, Halida Lutfia, mengatakan fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan sebagai lokasi pembelajaran di luar sekolah maupun kegiatan penelitian.

 

Menurutnya, koleksi yang tersedia di Balai Adat Tidung dibagi dalam sejumlah ruang yang memiliki fungsi dan koleksi berbeda. Salah satunya Ruang Delaki yang menyimpan berbagai alat penangkap ikan dan perlengkapan nelayan khas lokal.

 

Sementara Ruang Denandu menyajikan koleksi alat seni dan musik tradisional. Selain melihat koleksi, pengunjung juga dapat memperoleh penjelasan mengenai seni dan kebudayaan asli Tidung.

 

“Di sini juga ada pembelajaran muatan lokal, termasuk seni dan kebudayaan asli Tidung. Kami juga pernah melakukan pelatihan bahasa Tidung untuk guru-guru SD,” ujar Halida.

 

Ia menjelaskan, museum dan balai adat juga terbuka bagi rombongan sekolah mulai dari tingkat TK hingga SMA. Pihak pengelola menyediakan pemandu yang dapat memberikan penjelasan mengenai koleksi dan sejarah yang ada.

 

Untuk rombongan sekolah, tersedia pula ruang khusus yang dapat digunakan untuk sesi tanya jawab maupun beristirahat dan makan. Namun, pengunjung tetap diwajibkan menjaga kebersihan selama menggunakan fasilitas tersebut.

 

Selain untuk kegiatan edukasi, tempat tersebut juga dapat dimanfaatkan mahasiswa sebagai lokasi penelitian, termasuk mahasiswa dari jurusan Teknik Sipil, Matematika, kebudayaan dan bidang lainnya.

 

Dari sisi pelayanan, Balai Adat Tidung & Budaya serta Museum Sejarah Tarakan buka setiap hari mulai pukul 07.00 hingga 16.30 WITA.

 

Untuk kunjungan biasa, tarif Balai Adat Tidung ditetapkan sebesar Rp5.000 per orang bagi pelajar maupun umum. Sementara tarif Museum Sejarah Tarakan sebesar Rp5.000 per orang untuk pelajar mulai PAUD hingga mahasiswa, Rp10.000 untuk pengunjung umum atau dewasa, serta Rp20.000 untuk wisatawan asing.

 

Pengelola juga membuka layanan penggunaan lokasi untuk kegiatan foto prewedding. Untuk Balai Adat tarifnya Rp300.000 per kegiatan, sedangkan Museum Sejarah Rp250.000 per kegiatan. Kegiatan tersebut dapat dilakukan mulai pukul 17.00 atau 18.00 WITA, menyesuaikan agenda.

 

“Untuk prewedding harus mengajukan surat permohonan atau melakukan pendaftaran terlebih dahulu,” jelas Halida.

 

Selain itu, pengunjung yang ingin melakukan pengambilan video untuk kebutuhan background, perlombaan maupun kegiatan seni dikenakan tarif Rp250.000 per kegiatan. Penggunaan dapat dilakukan tanpa batasan durasi selama masih dalam hari yang sama.

 

Halida berharap keberadaan Balai Adat Tidung dan Museum Sejarah Tarakan semakin dimanfaatkan masyarakat, khususnya generasi muda, bukan sekadar sebagai tempat kunjungan, tetapi sebagai ruang untuk mengenal, mempelajari dan menjaga warisan budaya lokal.

 

“Harapannya masyarakat, terutama anak-anak dan generasi muda, semakin mengenal sejarah dan budaya Tidung melalui fasilitas yang ada di sini,” pungkasnya. (Adv/wek)





Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *