Arema Tarakan peduli sejarah, Tugu 10 November dibersihkan dan dicat ulang

Berita, Sosial170 Dilihat

TARAKAN24JAM.COM, TARAKAN – Memperingati HUT Arema Indonesia yang jatuh pada 11 Agustus, sekaligus menyambut HUT Arema Tarakan pada 2 September dan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Paguyuban Arema Tarakan menggelar aksi bakti sosial di kawasan Tugu 10 November, Kota Tarakan.
Kegiatan ini menjadi langkah awal Arema Tarakan untuk ikut menjaga kebersihan sekaligus merawat sejumlah tempat yang memiliki nilai sejarah di Kota Tarakan.

Ketua Arema Tarakan, Dr. Hj. Agus Surya Dewi, M.Pd., mengatakan Tugu 10 November dipilih karena lokasinya berada di tepi jalan dan kondisinya dinilai sudah membutuhkan perawatan.

“Kami lihat ini sudah kotor. Karena ini di pinggir jalan yang dilalui masyarakat, kita mau cat kembali. Kalau sebelumnya menggunakan cat air, nanti kita perbaiki dengan cat minyak supaya lebih tahan lama dan terlihat bagus,” ujar Agus Surya Dewi.

Menurutnya, Tugu 10 November bukan sekadar bangunan yang berada di tengah kota. Tugu tersebut merupakan bagian dari sejarah yang harus dirawat dan dihargai masyarakat.

Terlebih, kegiatan tersebut dilakukan pada momentum bulan kemerdekaan yang dinilai tepat untuk kembali mengingat jasa para pejuang.

“Apapun ini milik Pemerintah Kota Tarakan dan milik masyarakat Kota Tarakan. Momennya pas di bulan Agustus, sekaligus untuk menghargai para pahlawan yang sudah berjuang,” katanya.

Dalam proses pengecatan, Arema Tarakan memastikan tidak akan mengubah warna asli tugu. Warna merah dan putih tetap dipertahankan sesuai nilai historis yang melekat pada bangunan tersebut. Sementara bagian lantai akan diberikan sentuhan warna biru.

Agus menegaskan, kegiatan sosial tersebut tidak berhenti pada Tugu 10 November. Arema Tarakan berencana melanjutkan aksi serupa di sejumlah lokasi lain yang membutuhkan perhatian dan kebersihan.

“Kami akan melaksanakan kegiatan bakti sosial, bersih-bersih yang bermanfaat untuk Kota Tarakan. Nanti kita lihat bersama-sama tempat mana yang perlu dibersihkan,” ujarnya.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi momentum bagi kepengurusan Arema Tarakan untuk kembali menyatukan para anggotanya setelah sempat mengalami kevakuman.

Agus mengaku belum melakukan pendataan ulang jumlah anggota Arema Tarakan. Ia mengatakan, setelah sempat vakum karena rencana berpindah dari Tarakan, dirinya kembali dipercaya untuk memimpin organisasi tersebut atas permintaan para anggota.

“Sempat vakum dan kocar-kacir. Sekarang ini mulai menyatukan kembali,” tuturnya.
Paguyuban Arema Tarakan sendiri menjadi wadah bagi warga asal Malang yang berada di Tarakan. Namun, keanggotaan tidak terbatas bagi warga Malang. Masyarakat yang memiliki kecintaan terhadap Malang dan ingin bergabung juga terbuka untuk menjadi bagian dari paguyuban.

Bagi Arema Tarakan, keberadaan organisasi bukan hanya soal sepak bola maupun identitas daerah asal, tetapi juga bagaimana komunitas dapat memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.
Semangat tersebut dirangkum dalam semboyan yang diusung Arema Tarakan: “Arema Ada, Arema Peduli, Arema Berarti.” (Wek)





Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *