Umat Hindu di Tarakan Jalani Ibadah Nyepi Selama 24 Jam

Berita42 Dilihat

TARAKAN, tarakan24jam.com – Umat Hindu di Kota Tarakan, Kalimantan Utara, hari ini melaksanakan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948/2026 dengan menjalani Catur Brata Penyepian selama 24 jam penuh, mulai pukul 06.00 WITA hingga 06.00 WITA keesokan harinya.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Tarakan, I Gusti Ngurah Arnata mengatakan, pelaksanaan Nyepi menjadi momentum penting bagi umat Hindu untuk melakukan introspeksi dan penyucian diri secara total.

“Hari ini umat Hindu melaksanakan Nyepi selama 24 jam, dimulai dari pukul 06.00 pagi sampai 06.00 pagi keesokan harinya. Ini adalah waktu untuk benar-benar hening, mengendalikan diri, dan mendekatkan diri kepada Tuhan,” terangnya, Rabu malam (18/3/2026)

Selama pelaksanaan Nyepi, umat Hindu menjalankan empat pantangan utama atau Catur Brata Penyepian, yakni tidak menyalakan api (amati geni), tidak bekerja (amati karya), tidak bepergian (amati lelungan), serta tidak menikmati hiburan (amati lelanguan).

Arnata menjelaskan, keempat pantangan tersebut memiliki makna mendalam dalam kehidupan spiritual, terutama dalam mengendalikan emosi, menahan keinginan duniawi, serta menenangkan pikiran.

“Ini bukan sekadar tidak beraktivitas, tapi bagaimana kita menahan diri dari hal-hal yang bersifat duniawi. Mengendalikan emosi, menahan keinginan, dan merenungkan diri,” jelasnya.

Ia menambahkan, pelaksanaan Nyepi merupakan kelanjutan dari rangkaian ritual sebelumnya, termasuk Melasti dan Tawur Agung Kesanga yang bertujuan untuk menyucikan alam semesta.

“Kalau sebelumnya kita membersihkan alam, hari ini adalah waktunya membersihkan diri kita masing-masing. Jadi keseimbangan antara alam dan manusia bisa terjaga,” katanya.

Di Tarakan, suasana Nyepi berlangsung dengan khidmat meski tidak dilakukan penutupan aktivitas secara total seperti di Bali. Umat Hindu tetap menjalankan ibadah dengan penuh kekhusyukan di lingkungan masing-masing.

Arnata juga mengajak seluruh masyarakat untuk menghormati pelaksanaan Nyepi sebagai bagian dari kehidupan beragama yang harmonis di Kota Tarakan.

“Ini adalah momen suci bagi umat Hindu. Kami berharap masyarakat dapat saling menghormati, sehingga pelaksanaan Nyepi bisa berjalan dengan tenang dan lancar,” ungkapnya.

Ia menegaskan, esensi dari Nyepi adalah membangun kesadaran diri agar menjadi pribadi yang lebih baik di tahun yang baru, sekaligus memperkuat nilai toleransi di tengah keberagaman.

“Dengan keheningan ini, kita belajar mengenal diri sendiri, memperbaiki diri, dan memulai kehidupan yang lebih baik ke depan,” pungkasnya. (wek)





banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *