TARAKAN , tarakan24jam.com – Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, menyoroti rendahnya tradisi literasi di kalangan generasi muda, khususnya mahasiswa. Hal ini ia sampaikan saat memberikan kuliah umum di lingkungan kampus, yang turut dihadiri civitas akademika.
Dalam pemaparannya, Dahnil mengawali dengan kritik terbuka terhadap mahasiswa yang dinilainya mulai menjauh dari sejarah bangsa. Menurutnya, pemahaman terhadap sejarah menjadi fondasi penting dalam membangun rasa kebangsaan.
“Bagaimana Anda mau mengenal Indonesia, membela rakyat, dan menyuarakan kepentingan bangsa kalau tidak memahami sejarahnya. Hari ini, generasi muda jarang sekali berbicara soal sejarah dan mengenal Indonesia secara mendalam,” ujarnya, Senin (4/5/2026).
Ia menekankan pentingnya membangun kembali tradisi membaca di tengah gempuran media sosial. Dahnil menilai, kebiasaan membuka platform seperti TikTok dan Instagram kini jauh lebih dominan dibandingkan membaca buku.
“Coba koreksi diri, berapa jam sehari membuka handphone? Bisa sampai 12 jam. Tapi apakah ada satu jam saja digunakan untuk membaca buku? Ini yang menjadi kegelisahan saya,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan kekhawatiran atas menurunnya penghargaan terhadap ilmu pengetahuan. Menurutnya, fenomena di media sosial menunjukkan bagaimana akademisi atau tokoh berilmu kerap mendapat perlakuan tidak pantas dari masyarakat yang minim literasi.
“Negara maju itu dibangun oleh masyarakat yang menghormati ilmu pengetahuan. Kalau tradisi ini hilang, maka kualitas demokrasi kita juga akan menurun,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Dahnil juga mengingatkan bahwa kualitas pemimpin di masa depan sangat ditentukan oleh kualitas generasi saat ini. Ia berharap mahasiswa mampu meningkatkan kapasitas diri melalui literasi dan tradisi keilmuan.
“Suatu saat, yang berdiri menjadi pemimpin adalah kalian. Kalau kualitasnya baik, maka negara ini juga akan baik. Tapi kalau tidak, maka kita akan menghadapi krisis kepemimpinan,” ujarnya.
Selain itu, Dahnil turut mengulas peran tokoh-tokoh bangsa generasi awal, seperti HOS Cokroaminoto yang disebutnya sebagai salah satu figur penting dalam membangun kesadaran nasionalisme. Ia menjelaskan bahwa para tokoh tersebut memiliki tradisi keilmuan yang kuat, termasuk pengalaman belajar di Mekkah yang turut membentuk pemikiran mereka.
Menurutnya, sejarah mencatat bahwa para tokoh pergerakan tidak hanya mengalami perubahan secara pribadi setelah menunaikan ibadah haji, tetapi juga membawa pengaruh besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Di akhir penyampaiannya, Dahnil berharap perguruan tinggi dapat kembali menghidupkan budaya literasi dan menjadikan kampus sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan.
“Tradisi literasi harus dihidupkan kembali. Kampus harus menjadi ruang yang memuliakan ilmu pengetahuan, bukan sekadar tempat mengejar gelar,” pungkasnya. (Wek)







